Ustaz
Abu Muhammad Harits,
|
24
Sep 2013
|
Kisah tiga sahabat yang ketinggalan
perang
Rasulullah SAW bersama pasukan muslimin mulai mendekati kota Madinah. Beberapa
penduduk kota berlarian menyambut baginda, begitu juga wanita dan anak-anak
yang hendak menyambut beliau, suami dan ayah-ayah mereka. Anak-anak itu dengan
gembira mendendangkan nyanyian:
Telah muncul purnama kepada kami dari Tsaniyatil Wada’…
Kemudian Rasulullah SAW memasuki masjid dan solat dua rakaat. Demikianlah
kebiasaan beliau setelah melakukan perjalanan jauh.
Setelah itu, mulailah berduyun-duyun orang-orang yang tertinggal menemui baginda
mengajukan uzur tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Sebahagian dari mereka
diterima oleh baginda dan urusan batinnya diserahkan kepada Allah SWT.
Antara sahabat, ada beberapa orang yang sengaja mengikat tubuh mereka di
tiang-tiang masjid. Rasulullah SAW melihat mereka dan bertanya, “Siapa yang mengikat
dirinya di tiang ini?”
Sahabat lain menjawab, “Itu Abu Lubabah dan teman-temannya, oleh sebab mereka
tidak ikut perang bersama Anda, wahai Rasulullah. Mereka ingin Rasulullah
sendiri yang melepaskan mereka.”
Rasulullah SAW berkata, “Demi Allah, saya tidak akan melepaskan dan tidak pula
menerima uzur mereka, sehingga Allah sendiri yang melepaskan mereka. Mereka
tidak suka ikut bersamaku, dan tidak mahu berperang bersama kaum muslimin.”
Ketika sampai perkataan Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabat tersebut, mereka
berkata, “Kami pun tidak akan melepaskan diri kami hingga Allah sendiri yang
melepaskan kami.”
Kemudian turunlah firman Allah SWT:
“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka
mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk.
Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (Surah at-Taubah : ayat 102)
Setelah ayat ini turun, Nabi SAW pun menemui mereka, melepaskan tali yang
membelit mereka dan menerima uzur mereka. Tak lama, mereka datang menemui
Rasulullah SAW sambil membawa harta mereka dan berkata, “Wahai Rasulullah,
inilah harta kami. Bersedekahlah dengan harta ini dan mintakanlah ampunan untuk
kami.”
Beliau menjawab, “Saya tidak diperintah mengambil harta kalian.” Lalu turun
ayat:
“Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (Surah at-Taubah : ayat
103)
Kemudian, datang pula tiga orang sahabat yang mulia; Ka’b bin Malik, Hilal bin
Umayyah, dan Murarah bin Ar-Rabi’,. Mereka tidak ikut mengikat diri mereka
bersama Abu Lubabah dan teman-temannya. Mereka merasa tidak punya alasan yang
memberatkan hingga tertinggal dari Rasulullah SAW. Mereka hanya menyampaikan
bahawa mereka tidak ikut serta. Akhirnya, Rasulullah SAW menyerahkan urusan
mereka kepada Allah SWT.
Kejadian ini, sepenuhnya kita serahkan kepada penuturan sahabat yang mulia
Ka’ab bin Malik RA berikut ini.
Saya tidak pernah tertinggal dari Rasulullah SAW dalam peperangan yang baginda
lalui kecuali perang Tabuk. Walaupun saya pernah tertinggal dari perang Badr,
tapi Rasulullah SAW tidak mencela saya dan siapapun yang tertinggal, kerana
waktu itu kami mengira Rasulullah SAW keluar hanya untuk menghalang kafilah
dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah SWT mempertemukan beliau dengan
musuh-musuhnya tanpa kesepakatan sebelumnya.
Sungguh, saya telah ikut bersama Rasulullah SAW pada malam Aqabah ketika kami
sangat yakin kepada Islam. Saya tidak suka malam itu digantikan dengan
peristiwa Badr, meskipun Badr lebih dikenang orang daripada malam itu.
Saya belum pernah merasa lebih kuat sama sekali dan lebih mudah daripada
keadaan saya ketika tertinggal dari beliau dalam perang (Tabuk) tersebut. Demi
Allah, saya belum pernah mengumpulkan dua kendaraan sama sekali dalam sebuah
peperangan kecuali perang Tabuk. Biasanya, apabila hendak berangkat berperang,
Rasulullah SAW melakukan tauriyah (berbuat atau mengatakan sesuatu untuk
mengalihkan perhatian) dengan hal-hal yang lain.
Setelah melakukan persiapan, walaupun serba minimum (kekurangan), kerana pada
waktu itu adalah musim panas yang sangat buruk, kenderaan dan perbekalan serba
kurang, Rasulullah SAW berangkat juga. baginda memerintahkan kaum muslimin agar
mempersiapkan perlengkapan perang mereka. Baginda SAW menyampaikan taklimat ke
mana arah yang beliau tuju dan lawan yang akan dihadapi, sehingga banyak yang
menyertai Rasulullah SAW.
Kata Ka’ab selanjutnya, “Ada yang ingin mengelak dan mengira pasti akan dapat
bersembunyi dari beliau selama tidak turun wahyu Allah tentang dia.”
TIDak lama, ketika buah-buahan mulai masak, naungan mulai rimbun, Rasulullah
SAW pun berangkat diikuti oleh kaum muslimin. Saya datang pagi-pagi untuk
bersiap-siap bersama mereka, lalu pulang tetapi tidak melakukan apa-apa.
Saya berkata dalam hati, “ Saya dapat segera menyiapkannya.”
Pagi harinya Rasulullah SAW dan kaum muslimin sudah mulai bergerak. Tetapi,
saya masih belum mempersiapkan diri sedikitpun. Saya berkata dalam hati, “ Saya
akan mempersiapkan diri sesudah satu atau dua hari ini lalu menyusul mereka.”
Saya pun datang pagi-pagi, lalu kembali lagi sesudah mereka berangkat. Saya
pulang dan belum juga berbuat apa-apa.
Saya datang dan pergi lagi tanpa melakukan sesuatu. Hal ini berlangsung
terus-menerus sampai pasukan semakin jauh dari kota. Saya mulai bertekad
menyusul mereka.
Duhai, kiranya saya memang melakukannya, namun belum juga ditakdirkan untuk
saya. Suatu hari, saya keluar di antara orang banyak sesudah Rasulullah SAW dan
pasukan muslimin berangkat. Saya pun berkeliling. Sungguh menyedihkanku,
ternyata saya tidak melihat siapa-siapa kecuali orang-orang yang tertuduh
munafik, atau orang-orang lemah yang diberi uzur oleh Allah SWT
Rasulullah SAW tidak menyebut-nyebut nama saya sampai beliau tiba di Tabuk.
Setelah berada di Tabuk, mulailah beliau bertanya ketika duduk-duduk di antara
pasukan, “Apa yang dikerjakan Ka’b?”
Salah seorang dari Bani Salimah berkata, “Wahai Rasulullah, dia ditahan oleh
dua burdahnya dan melihat betapa bagusnya burdah itu.”
Mu’adz bin Jabal RA menukas, “Alangkah buruknya ucapanmu. Demi Allah, wahai
Rasulullah. Kami tidak mengetahui tentang dia kecuali yang baik-baik saja.”
Rasulullah SAW pun diam.
Kemudian, Ka’b bin Malik melanjutkan, - Ketika sampai berita bahwa Rasulullah
SAW dan kaum muslimin bersiap-siap untuk kembali, muncullah keinginanku
mencari-cari helah. Saya berkata dalam hati, ‘Dengan apa kira-kira saya dapat
lari dari kemarahan baginda nanti?’ Saya pun meminta saranan daripada semua
keluargaku.
Tatkala diberitakan bahawa Rasulullah SAW sudah mulai kembali, hilanglah
kebatilan (kebohongan). Saya pun tahu, tidak akan mungkin lari dengan sedikit
pembohongan saja dari baginda selamanya. Akhirnya, saya bersikap jujur kepada
baginda.
Esok harinya, Rasulullah SAW dan pasukan pun sampai di Madinah. Penduduk
berduyun-duyun menyambut beliau. Biasanya, kalau baru tiba dari musafir beliau
selalu singgah lebih dahulu di masjid dan solat dua rakaat, kemudian duduk
menghadapi orang ramai yang datang mengajukan uzur dan meminta maaf atas
ketertinggalan mereka. Setelah itu, datanglah orang-orang yang tertinggal itu
dan mulailah mereka mengajukan alasan serta bersumpah. Jumlah mereka sekitar 80
orang. Rasulullah SAW menerima alasan mereka, membai’at, dan memintakan ampunan
buat mereka serta menyerahkan rahsia mereka kepada Allah SWT.
Saya datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau berkata, “Kemarilah!”
Saya pun melangkah sampai duduk di hadapan beliau, lalu beliau berkata,
“Mengapa engkau tertinggal? Bukankah engkau sudah membeli kendaraan?”
Kata saya, “Betul. Sungguh, demi Allah, wahai Rasulullah. Seandainya aku duduk
dengan orang lain di dunia ini, pastilah Anda melihat saya akan lari dari
kemarahannya dengan satu alasan. Sungguh, demi Allah, saya diberi kemampuan
berdebat. Tetapi demi Allah, seandainya saya berbicara kepada Anda hari ini
dengan satu pembohongan, lalu Anda meredai saya, pastilah Allah SWT akan
membuat Anda marah kepada saya. Sungguh, seandainya saya berbicara kepada Anda
dengan jujur, nescaya Anda melihatnya ada pada saya. Saya betul-betul berharap
keampunan Allah SWT dalam masalah ini.
Tidak. Demi Allah, saya tidak punya uzur sama sekali. Saya tidak pernah merasa
lebih kuat dan lebih mudah sama sekali dibandingkan ketika saya tertinggal dari
Anda.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Adapun dia ini, sudah berbuat jujur.
Berdirilah sampai Allah SWT memberi keputusan tentangmu.”
Saya pun berdiri, dan berdatanganlah orang-orang Bani Salimah menyusul sambil
mengatakan, “Demi Allah, kami tidak pernah lihat engkau berbuat kesalahan
sebelum ini, engkau sungguh lemah. Mengapa engkau tidak meminta uzur kepada
Rasulullah SAW sebagaimana orang-orang yang tertinggal meminta uzur kepada
beliau? Sudah cukup dosamu itu dengan Rasulullah SAW memintakan ampun untukmu.”
Demi Allah, mereka terus-menerus mendorong saya sampai saya berkeinginan rujuk
dan mendustakan diri sendiri. Kemudian saya katakan kepada mereka, “Apakah ada
orang yang mengalami keadaan seperti ini bersama saya?”
Kata mereka, “Ya, ada dua orang. Mereka mengucapkan hal yang sama seperti
engkau dan dikatakan kepada mereka seperti yang diucapkan kepadamu.”
Saya pun bertanya, “Siapa mereka?”
Kata mereka, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan dua orang soleh yang pernah ikut perang Badr. Ini adalah
teladan bagiku. Saya pun tetap melanjutkan sikap saya setelah mereka menyebut dua
orang soleh ini.
Rasulullah SAW mulai melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di
antara orang-orang yang tertinggal. Akhirnya, orang ramai mulai menjauhi kami.
Keadaan pun berubah, sampai saya merasa diri saya asing di bumi ini (Madinah).
Seolah-olah tanah (Madinah) ini bukan seperti yang saya kenal. Dan kami
merasakannya selama 50 hari.
Kedua sahabatku merasa hina dan hanya terduduk di rumah mereka sambil menangis.
Sedangkan aku yang lebih muda dan lebih tabah, selalu keluar dan ikut solat
bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar-pasar dalam keadaan tidak seorang
pun mengajakku berbual. Saya mencuba mendatangi Rasulullah SAW untuk
mengucapkan salam kepada baginda ketika baginda duduk di majlisnya selepas
solat.
Saya bertanya dalam hati, “Apakah beliau menjawab salamku atau tidak?” Saya
berusaha solat di dekat beliau sambil mencuri-curi pandang. Kalau saya menekuni
solat saya, beliau menghadap ke arahku. Tapi kalau saya menoleh ke arah beliau,
beliau melihat ke arah lain.
Sampai ketika saya merasakan keterasingan. Saya berjalan lalu memanjat pagar
rumah Abu Qatadah. Dia adalah sepupu saya dan orang yang paling saya cintai.
Saya mengucapkan salam kepadanya, tapi demi Allah, dia tidak menjawab salam
saya.
Saya pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, saya sumpahi engkau demi Allah, bukankah
engkau tahu bahawa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Dia tetap diam. Saya
ulang menyumpahinya, tapi dia diam. Saya pun mengulangi lagi.
Akhirnya, Abu Qatadah berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Air mata saya mulai berlinang. Saya pun mundur dan turun dari pagar itu.
Abu Qatadah tidak mengatakan ya atau tidak. Sepatah kata tidaklah dianggap
bicara. Bagaimana Ka’ab tidak menangis, saudara sepupu yang sangat dicintainya,
tidak menjawab salam dan pertanyaannya, padahal dia sudah menuntutnya dengan
sumpah, yang jelas-jelas sebagai perkara ibadah. Di samping itu, pertanyaan
Ka’ab dengan sumpah itu sama ertinya menuntut sebuah persaksian. Akan tetapi,
Abu Qadatah tidak mahu bersaksi walaupun dia mengetahui Ka’ab mencintai Allah
dan Rasul-Nya.
Suatu hari, tatkala saya sedang berjalan di sebuah pasar kota Madinah,
tiba-tiba seorang dari penduduk Syam yang biasa membawa makanan untuk dijual di
Madinah bertanya, “Siapa yang boleh menunjukkan saya kepada Ka’ab bin Malik?”
Orang ramai serentak menunjuk ke arah saya. Akhirnya dia menemui saya dan
menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan.
Ternyata isinya, “Amma ba’du,… Sebetulnya sampai berita kepadaku bahawa temanmu
(Muhammad) memulaukanmu. Allah tidak akan menjadikanmu tetap di tempat yang
hina dan tersia-sia. Datanglah kepada kami, nescaya kami memuliakanmu.”
Akan tetapi, Ka’ab adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta
mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam keadaan dipulau, terasing, dan tidak
diajak bicara, bahkan oleh keluarga yang sangat dicintai, kalau saja beliau
orang yang lemah iman, tentu dengan segera menyambut tawaran itu.
Setelah membacanya saya pun berkata, “Ini juga musibah,” lalu saya menyalakan
tungku dan membakarnya.
Demikianlah seharusnya yang dilakukan oleh orang yang ingin menyelamatkan diri
dari fitnah: menghancurkan sesuatu yang menjadi sebab timbulnya fitnah bagi
dirinya.
40 malam berlalu. Tidak lama, datang utusan Rasulullah SAW menemui saya dan
berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan engkau agar menjauhi
isterimu.”
Saya bertanya, “Apakah saya harus menceraikannya atau apa yang saya lakukan?”
Katanya, “Tidak. Engkau hanya diperintah agar menjauhinya dan jangan
mendekatinya.” Seperti itu juga yang disampaikan kepada dua sahabat saya itu.
Kemudian saya katakan kepada isteri saya, “Kembalilah kepada keluargamu.
Tinggallah di sana sampai Allah memutuskan perkara ini.”
Kata Ka’ab, “Datanglah isteri Hilal bin Umayyah menemui Rasulullah SAW, lalu
berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah seorang laki-laki
renta dan tidak punya pelayan. Apakah Anda tidak suka kalau saya melayaninya?”
Kata beliau, “Tidak, tapi dia tidak boleh mendekatimu.”
Wanita itu berkata, “Sungguh, demi Allah, dia tidak ada keinginan lain kepada
sesuatu. Demi Allah, dia terus menangis sejak awal kejadian ini sampai hari
ini.”
Sebahagian keluarga saya berkata, “Sebaiknya engkau minta izin kepada
Rasulullah SAW tentang isterimu sebagaimana diizinkan untuk isteri Hilal bin
Umayyah agar dia melayanimu.”
Saya pun berkata, “Demi Allah, saya tidak akan minta izin untuknya kepada
Rasulullah SAW. Apa kira-kira yang akan saya katakan, seandainya saya minta
izin kepada Rasulullah SAW, padahal saya seorang pemuda?”
Akhirnya, tinggallah saya dalam keadaan demikian selama 10 hari, sampai genap
50 hari sejak Rasulullah SAW melarang kami semua.
Satu bulan lebih, wahyu tidak juga turun. Itulah salah satu rahsia hikmah Allah
Ta’ala dalam setiap urusan besar, sehingga kaum muslimin benar-benar merasa
rindu kepada wahyu itu.
Selesai solat subuh pada hari terakhir (ke-50), ketika saya sedang berada di
atas loteng rumah, persis seperti diterangkan Allah, “Jiwa terasa sesak, dan
bumi pun terasa sempit, padahal dia begitu luasnya,” saya mendengar suara
teriakan, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai Ka’ab bin Malik,
bergembiralah!”
Saya pun sujud syukur. Saya tahu, telah datang kelapangan dan Rasulullah SAW
memberitahukan adanya taubat dari Allah SWT atas kami ketika solat subuh. Kaum
muslimin berduyun-duyun memberi ucapan selamat kepada saya dan dua sahabat itu.
Ada seseorang datang dengan berkuda, ada pula dari bani Aslam berjalan cepat ke
arah saya. Sedangkan suara lebih cepat dari kuda. Setelah pemilik suara itu
datang, saya melepas baju saya dan memberikannya kepada orang itu sebagai
hadiah atas berita gembira tersebut. Padahal, demi Allah, saya tidak punya baju
lain selainnya pada hari itu. Akhirnya, saya meminjam sehelai baju dan
mengenakannya lalu berangkat menemui Rasulullah SAW. Orang-orang pun
berduyun-duyun mengucapkan selamat kepada saya, kata mereka, “Selamat, kerana
taubatmu diterima oleh Allah.” Hal itu berlangsung sampai saya masuk ke dalam
masjid. Ternyata Rasulullah SAW sudah dikelilingi oleh para sahabat lain.
Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidullah berlari kecil menyambut dan menyalami saya
sambil mengucapkan selamat. Demi Allah, tidak ada satu pun Muhajirin yang
berdiri selain dia. Saya tidak akan melupakan hal ini dari Thalhah.
Demikianlah keadaan mereka, iaitu orang-orang yang mencintai untuk saudaranya
apa yang dicintainya untuk dirinya. Mereka tidak iri atau dengki atas kelebihan
yang Allah SWT limpahkan kepada saudara mereka, iaitu turunnya wahyu yang agung
menerangkan bahwa taubat mereka diterima. Bahkan, mereka mengucapkan selamat
sampai Ka’ab masuk ke dalam masjid.
Kata Ka’ab, “Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, baginda
berkata dengan wajah berseri-seri, ‘Bergembiralah dengan sebaik-baik hari yang
telah engkau lewati sejak engkau dilahirkan ibumu’.”
Rasulullah SAW benar, karena Allah telah menurunkan taubatnya dan taubat kedua
temannya dalam Al-Qur’an yang dibaca. Rabb semesta alam yang mengucapkannya dan
menurunkannya kepada Muhammad, terpelihara dengan perantaraan Jibril dan
terjaga sampai hari kiamat.
Tidak seorang pun selain para nabi, atau orang-orang yang disebut oleh Allah
SWT dalam al-Qur’an yang kisahnya terpelihara seperti kisah Ka’ab dan dua
sahabatnya. Kisah ini abadi dan senantiasa dibaca dalam Kitab Allah SWT, di
mihrab, di mimbar, dan di mana-mana pun. Siapa yang membaca kisah ini, dia
memperoleh 10 kebaikan dari setiap huruf al-Qur’an yang dibacanya.
Ka’ab melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah ini dari engkau atau dari sisi
Allah SWT?”
Kata baginda, “Dari sisi Allah.” Dan kalau Rasulullah SAW gembira, wajahnya
bersinar laksana bulan purnama.
Setelah duduk di hadapan baginda, saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
sebagai bukti taubat, saya menyerahkan harta saya untuk sedekah kepada Allah
dan Rasul-Nya.”
Rasulullah SAW berkata, “Simpanlah sebahagian hartamu, tentu itu lebih baik.”
Kata saya, “Sesungguhnya, saya menahan bahagian yang saya peroleh dari
Khaibar.”
Kemudian saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkan
saya tidak lain kerana kejujuran. Termasuk taubat saya juga, saya tidak akan
berbicara kecuali yang benar selama saya masih hidup.”
Demi Allah, saya tidak melihat ada seorang muslim yang Allah SWT beri ujian
dalam hal kejujuran—sejak saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah SWT—yang
lebih baik daripada yang diberikan kepada saya.
Belum pernah pula saya sengaja berdusta sejak mengatakan hal itu kepada
Rasulullah SAW sampai hari ini. Sungguh, saya berharap Allah SWT memelihara
saya dalam sisa-sisa umur saya.
Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan
orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati
segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka
itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan
terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga
apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa
merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui
bahwa tidak ada tempat lari dari (seksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja.
Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.
Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar.” (Surah at-Taubah : ayat 117—119)
Demi Allah, tidak pernah Allah Subhanahuwata’ala memberi nikmat kepadaku yang
lebih besar bagi diri saya—sesudah memberi saya hidayah kepada Islam—daripada
kejujuran kepada Rasulullah SAW; saya tidak akan berdusta kepada beliau, yang
akibatnya saya binasa sebagaimana binasa mereka yang berdusta. Sungguh Allah
SWT berfirman tentang orang-orang yang berdusta itu, karena menurunkan wahyu
lebih buruk daripada kepada yang lain.
Allah SWT berfirman:
“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali
kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari
mereka; kerana sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam;
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah
kepadamu, agar kamu reda kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu reda kepada
mereka, maka sesungguhnya Allah tidak reda kepada orang-orang yang fasik itu.”
(Surah at-Taubah : ayat 95—95)
Dan kefasikan adalah sebab tidak diperolehnya keredaan Allah.
Kata Ka’ab, “Dahulu kami bertiga ditunda dari mereka yang diterima oleh
Rasulullah SAW ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu beliau membai’at
serta memintakan ampunan untuk mereka. Rasulullah SAW menunda persoalan kami
sampai Allah memutuskannya. Itulah firman Allah Subhanahuwata’la:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka….”
Maknanya bukan tertinggal dari peperangan, tapi ketertinggalan kami dan
penundaan beliau terhadap urusan kami dari mereka yang telah bersumpah kepada
beliau dan mengajukan alasan lalu beliau terima.”
Beberapa kesimpulan dari kisah ini;
1.Seorang muslim boleh menceritakan dosanya sesudah taubat agar membangkitkan
semangat orang lain untuk bertaubat, apalagi bila dosa itu tersebar dan
diketahui orang banyak. Adapun dosa yang sifatnya rahsia atau yang
terang-terangan tapi belum bertaubat, tidak boleh diceritakan agar tidak mendorong
orang lain berbuat seperti itu, dan diapun menjadi golongan orang-orang yang
mujaharah (terang-terangan berbuat dosa).
2.Seorang mukmin merasakan kepedihan ketika mengabaikan sebuah kewajiban.
3.Seorang mukmin tidak akan mengejek saudaranya, tetapi membelanya, seperti
yang dilakukan Mu’adz bin Jabal RA terhadap Ka’b RA.
4.Memutuskan hubungan adalah ubat yang ampuh untuk mengembalikan orang-orang
yang menyimpang kepada kebenaran. Larangan yang ada berlaku dalam urusan dunia,
atau melampiaskan kejengkelan.
5.Mukmin yang sempurna tidak akan menjual agamanya, walaupun diberi dunia dan
seisinya.
6.Sujud syukur ketika memperoleh kelapangan, seperti yang dilakukan Ka’ab.
Sumber: http://salafy.or.id