berilmu beramal

BERIMAN, BERILMU DAN BERAMAL ADALAH PERKARA PENTING UNTUK MENDAPAT KEREDAAN ALLAH SWT. HILANG SATU PERKARA, CACATLAH YANG LAIN.

Search This Blog

Wednesday, September 25, 2013

Perang Tabuk (4)


Ustaz Abu Muhammad Harits,
24 Sep 2013
Kisah tiga sahabat yang ketinggalan perang

Rasulullah SAW bersama pasukan muslimin mulai mendekati kota Madinah. Beberapa penduduk kota berlarian menyambut baginda, begitu juga wanita dan anak-anak yang hendak menyambut beliau, suami dan ayah-ayah mereka. Anak-anak itu dengan gembira mendendangkan nyanyian:

Telah muncul purnama kepada kami dari Tsaniyatil Wada’…

Kemudian Rasulullah SAW memasuki masjid dan solat dua rakaat. Demikianlah kebiasaan beliau setelah melakukan perjalanan jauh.

Setelah itu, mulailah berduyun-duyun orang-orang yang tertinggal menemui baginda mengajukan uzur tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Sebahagian dari mereka diterima oleh baginda dan urusan batinnya diserahkan kepada Allah SWT.

Antara sahabat, ada beberapa orang yang sengaja mengikat tubuh mereka di tiang-tiang masjid. Rasulullah SAW melihat mereka dan bertanya, “Siapa yang mengikat dirinya di tiang ini?”

Sahabat lain menjawab, “Itu Abu Lubabah dan teman-temannya, oleh sebab mereka tidak ikut perang bersama Anda, wahai Rasulullah. Mereka ingin Rasulullah sendiri yang melepaskan mereka.”

Rasulullah SAW berkata, “Demi Allah, saya tidak akan melepaskan dan tidak pula menerima uzur mereka, sehingga Allah sendiri yang melepaskan mereka. Mereka tidak suka ikut bersamaku, dan tidak mahu berperang bersama kaum muslimin.”

Ketika sampai perkataan Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabat tersebut, mereka berkata, “Kami pun tidak akan melepaskan diri kami hingga Allah sendiri yang melepaskan kami.”

Kemudian turunlah firman Allah SWT:

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah at-Taubah : ayat 102)

Setelah ayat ini turun, Nabi SAW pun menemui mereka, melepaskan tali yang membelit mereka dan menerima uzur mereka. Tak lama, mereka datang menemui Rasulullah SAW sambil membawa harta mereka dan berkata, “Wahai Rasulullah, inilah harta kami. Bersedekahlah dengan harta ini dan mintakanlah ampunan untuk kami.”

Beliau menjawab, “Saya tidak diperintah mengambil harta kalian.” Lalu turun ayat:

“Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (Surah at-Taubah : ayat 103)

Kemudian, datang pula tiga orang sahabat yang mulia; Ka’b bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Ar-Rabi’,. Mereka tidak ikut mengikat diri mereka bersama Abu Lubabah dan teman-temannya. Mereka merasa tidak punya alasan yang memberatkan hingga tertinggal dari Rasulullah SAW. Mereka hanya menyampaikan bahawa mereka tidak ikut serta. Akhirnya, Rasulullah SAW menyerahkan urusan mereka kepada Allah SWT.

Kejadian ini, sepenuhnya kita serahkan kepada penuturan sahabat yang mulia Ka’ab bin Malik RA berikut ini.

Saya tidak pernah tertinggal dari Rasulullah SAW dalam peperangan yang baginda lalui kecuali perang Tabuk. Walaupun saya pernah tertinggal dari perang Badr, tapi Rasulullah SAW tidak mencela saya dan siapapun yang tertinggal, kerana waktu itu kami mengira Rasulullah SAW keluar hanya untuk menghalang kafilah dagang Quraisy, hingga akhirnya Allah SWT mempertemukan beliau dengan musuh-musuhnya tanpa kesepakatan sebelumnya.

Sungguh, saya telah ikut bersama Rasulullah SAW pada malam Aqabah ketika kami sangat yakin kepada Islam. Saya tidak suka malam itu digantikan dengan peristiwa Badr, meskipun Badr lebih dikenang orang daripada malam itu.

Saya belum pernah merasa lebih kuat sama sekali dan lebih mudah daripada keadaan saya ketika tertinggal dari beliau dalam perang (Tabuk) tersebut. Demi Allah, saya belum pernah mengumpulkan dua kendaraan sama sekali dalam sebuah peperangan kecuali perang Tabuk. Biasanya, apabila hendak berangkat berperang, Rasulullah SAW melakukan tauriyah (berbuat atau mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatian) dengan hal-hal yang lain.

Setelah melakukan persiapan, walaupun serba minimum (kekurangan), kerana pada waktu itu adalah musim panas yang sangat buruk, kenderaan dan perbekalan serba kurang, Rasulullah SAW berangkat juga. baginda memerintahkan kaum muslimin agar mempersiapkan perlengkapan perang mereka. Baginda SAW menyampaikan taklimat ke mana arah yang beliau tuju dan lawan yang akan dihadapi, sehingga banyak yang menyertai Rasulullah SAW.

Kata Ka’ab selanjutnya, “Ada yang ingin mengelak dan mengira pasti akan dapat bersembunyi dari beliau selama tidak turun wahyu Allah tentang dia.”

TIDak lama, ketika buah-buahan mulai masak, naungan mulai rimbun, Rasulullah SAW pun berangkat diikuti oleh kaum muslimin. Saya datang pagi-pagi untuk bersiap-siap bersama mereka, lalu pulang tetapi tidak melakukan apa-apa.

Saya berkata dalam hati, “ Saya dapat segera menyiapkannya.”

Pagi harinya Rasulullah SAW dan kaum muslimin sudah mulai bergerak. Tetapi, saya masih belum mempersiapkan diri sedikitpun. Saya berkata dalam hati, “ Saya akan mempersiapkan diri sesudah satu atau dua hari ini lalu menyusul mereka.”

Saya pun datang pagi-pagi, lalu kembali lagi sesudah mereka berangkat. Saya pulang dan belum juga berbuat apa-apa.

Saya datang dan pergi lagi tanpa melakukan sesuatu. Hal ini berlangsung terus-menerus sampai pasukan semakin jauh dari kota. Saya mulai bertekad menyusul mereka.

Duhai, kiranya saya memang melakukannya, namun belum juga ditakdirkan untuk saya. Suatu hari, saya keluar di antara orang banyak sesudah Rasulullah SAW dan pasukan muslimin berangkat. Saya pun berkeliling. Sungguh menyedihkanku, ternyata saya tidak melihat siapa-siapa kecuali orang-orang yang tertuduh munafik, atau orang-orang lemah yang diberi uzur oleh Allah SWT

Rasulullah SAW tidak menyebut-nyebut nama saya sampai beliau tiba di Tabuk. Setelah berada di Tabuk, mulailah beliau bertanya ketika duduk-duduk di antara pasukan, “Apa yang dikerjakan Ka’b?”

Salah seorang dari Bani Salimah berkata, “Wahai Rasulullah, dia ditahan oleh dua burdahnya dan melihat betapa bagusnya burdah itu.”

Mu’adz bin Jabal RA menukas, “Alangkah buruknya ucapanmu. Demi Allah, wahai Rasulullah. Kami tidak mengetahui tentang dia kecuali yang baik-baik saja.” Rasulullah SAW pun diam.

Kemudian, Ka’b bin Malik melanjutkan, - Ketika sampai berita bahwa Rasulullah SAW dan kaum muslimin bersiap-siap untuk kembali, muncullah keinginanku mencari-cari helah. Saya berkata dalam hati, ‘Dengan apa kira-kira saya dapat lari dari kemarahan baginda nanti?’ Saya pun meminta saranan daripada semua keluargaku.

Tatkala diberitakan bahawa Rasulullah SAW sudah mulai kembali, hilanglah kebatilan (kebohongan). Saya pun tahu, tidak akan mungkin lari dengan sedikit pembohongan saja dari baginda selamanya. Akhirnya, saya bersikap jujur kepada baginda.

Esok harinya, Rasulullah SAW dan pasukan pun sampai di Madinah. Penduduk berduyun-duyun menyambut beliau. Biasanya, kalau baru tiba dari musafir beliau selalu singgah lebih dahulu di masjid dan solat dua rakaat, kemudian duduk menghadapi orang ramai yang datang mengajukan uzur dan meminta maaf atas ketertinggalan mereka. Setelah itu, datanglah orang-orang yang tertinggal itu dan mulailah mereka mengajukan alasan serta bersumpah. Jumlah mereka sekitar 80 orang. Rasulullah SAW menerima alasan mereka, membai’at, dan memintakan ampunan buat mereka serta menyerahkan rahsia mereka kepada Allah SWT.

Saya datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau berkata, “Kemarilah!” Saya pun melangkah sampai duduk di hadapan beliau, lalu beliau berkata, “Mengapa engkau tertinggal? Bukankah engkau sudah membeli kendaraan?”

Kata saya, “Betul. Sungguh, demi Allah, wahai Rasulullah. Seandainya aku duduk dengan orang lain di dunia ini, pastilah Anda melihat saya akan lari dari kemarahannya dengan satu alasan. Sungguh, demi Allah, saya diberi kemampuan berdebat. Tetapi demi Allah, seandainya saya berbicara kepada Anda hari ini dengan satu pembohongan, lalu Anda meredai saya, pastilah Allah SWT akan membuat Anda marah kepada saya. Sungguh, seandainya saya berbicara kepada Anda dengan jujur, nescaya Anda melihatnya ada pada saya. Saya betul-betul berharap keampunan Allah SWT dalam masalah ini.

Tidak. Demi Allah, saya tidak punya uzur sama sekali. Saya tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih mudah sama sekali dibandingkan ketika saya tertinggal dari Anda.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Adapun dia ini, sudah berbuat jujur. Berdirilah sampai Allah SWT memberi keputusan tentangmu.”

Saya pun berdiri, dan berdatanganlah orang-orang Bani Salimah menyusul sambil mengatakan, “Demi Allah, kami tidak pernah lihat engkau berbuat kesalahan sebelum ini, engkau sungguh lemah. Mengapa engkau tidak meminta uzur kepada Rasulullah SAW sebagaimana orang-orang yang tertinggal meminta uzur kepada beliau? Sudah cukup dosamu itu dengan Rasulullah SAW memintakan ampun untukmu.”

Demi Allah, mereka terus-menerus mendorong saya sampai saya berkeinginan rujuk dan mendustakan diri sendiri. Kemudian saya katakan kepada mereka, “Apakah ada orang yang mengalami keadaan seperti ini bersama saya?”

Kata mereka, “Ya, ada dua orang. Mereka mengucapkan hal yang sama seperti engkau dan dikatakan kepada mereka seperti yang diucapkan kepadamu.”

Saya pun bertanya, “Siapa mereka?”

Kata mereka, “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.” Mereka menyebutkan dua orang soleh yang pernah ikut perang Badr. Ini adalah teladan bagiku. Saya pun tetap melanjutkan sikap saya setelah mereka menyebut dua orang soleh ini.

Rasulullah SAW mulai melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tertinggal. Akhirnya, orang ramai mulai menjauhi kami. Keadaan pun berubah, sampai saya merasa diri saya asing di bumi ini (Madinah). Seolah-olah tanah (Madinah) ini bukan seperti yang saya kenal. Dan kami merasakannya selama 50 hari.

Kedua sahabatku merasa hina dan hanya terduduk di rumah mereka sambil menangis. Sedangkan aku yang lebih muda dan lebih tabah, selalu keluar dan ikut solat bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar-pasar dalam keadaan tidak seorang pun mengajakku berbual. Saya mencuba mendatangi Rasulullah SAW untuk mengucapkan salam kepada baginda ketika baginda duduk di majlisnya selepas solat.

Saya bertanya dalam hati, “Apakah beliau menjawab salamku atau tidak?” Saya berusaha solat di dekat beliau sambil mencuri-curi pandang. Kalau saya menekuni solat saya, beliau menghadap ke arahku. Tapi kalau saya menoleh ke arah beliau, beliau melihat ke arah lain.

Sampai ketika saya merasakan keterasingan. Saya berjalan lalu memanjat pagar rumah Abu Qatadah. Dia adalah sepupu saya dan orang yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tapi demi Allah, dia tidak menjawab salam saya.

Saya pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, saya sumpahi engkau demi Allah, bukankah engkau tahu bahawa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Dia tetap diam. Saya ulang menyumpahinya, tapi dia diam. Saya pun mengulangi lagi.

Akhirnya, Abu Qatadah berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Air mata saya mulai berlinang. Saya pun mundur dan turun dari pagar itu.

Abu Qatadah tidak mengatakan ya atau tidak. Sepatah kata tidaklah dianggap bicara. Bagaimana Ka’ab tidak menangis, saudara sepupu yang sangat dicintainya, tidak menjawab salam dan pertanyaannya, padahal dia sudah menuntutnya dengan sumpah, yang jelas-jelas sebagai perkara ibadah. Di samping itu, pertanyaan Ka’ab dengan sumpah itu sama ertinya menuntut sebuah persaksian. Akan tetapi, Abu Qadatah tidak mahu bersaksi walaupun dia mengetahui Ka’ab mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Suatu hari, tatkala saya sedang berjalan di sebuah pasar kota Madinah, tiba-tiba seorang dari penduduk Syam yang biasa membawa makanan untuk dijual di Madinah bertanya, “Siapa yang boleh menunjukkan saya kepada Ka’ab bin Malik?”

Orang ramai serentak menunjuk ke arah saya. Akhirnya dia menemui saya dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan.

Ternyata isinya, “Amma ba’du,… Sebetulnya sampai berita kepadaku bahawa temanmu (Muhammad) memulaukanmu. Allah tidak akan menjadikanmu tetap di tempat yang hina dan tersia-sia. Datanglah kepada kami, nescaya kami memuliakanmu.”

Akan tetapi, Ka’ab adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam keadaan dipulau, terasing, dan tidak diajak bicara, bahkan oleh keluarga yang sangat dicintai, kalau saja beliau orang yang lemah iman, tentu dengan segera menyambut tawaran itu.

Setelah membacanya saya pun berkata, “Ini juga musibah,” lalu saya menyalakan tungku dan membakarnya.

Demikianlah seharusnya yang dilakukan oleh orang yang ingin menyelamatkan diri dari fitnah: menghancurkan sesuatu yang menjadi sebab timbulnya fitnah bagi dirinya.

40 malam berlalu. Tidak lama, datang utusan Rasulullah SAW menemui saya dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan engkau agar menjauhi isterimu.”

Saya bertanya, “Apakah saya harus menceraikannya atau apa yang saya lakukan?” Katanya, “Tidak. Engkau hanya diperintah agar menjauhinya dan jangan mendekatinya.” Seperti itu juga yang disampaikan kepada dua sahabat saya itu.

Kemudian saya katakan kepada isteri saya, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah di sana sampai Allah memutuskan perkara ini.”

Kata Ka’ab, “Datanglah isteri Hilal bin Umayyah menemui Rasulullah SAW, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah seorang laki-laki renta dan tidak punya pelayan. Apakah Anda tidak suka kalau saya melayaninya?” Kata beliau, “Tidak, tapi dia tidak boleh mendekatimu.”

Wanita itu berkata, “Sungguh, demi Allah, dia tidak ada keinginan lain kepada sesuatu. Demi Allah, dia terus menangis sejak awal kejadian ini sampai hari ini.”

Sebahagian keluarga saya berkata, “Sebaiknya engkau minta izin kepada Rasulullah SAW tentang isterimu sebagaimana diizinkan untuk isteri Hilal bin Umayyah agar dia melayanimu.”

Saya pun berkata, “Demi Allah, saya tidak akan minta izin untuknya kepada Rasulullah SAW. Apa kira-kira yang akan saya katakan, seandainya saya minta izin kepada Rasulullah SAW, padahal saya seorang pemuda?”

Akhirnya, tinggallah saya dalam keadaan demikian selama 10 hari, sampai genap 50 hari sejak Rasulullah SAW melarang kami semua.

Satu bulan lebih, wahyu tidak juga turun. Itulah salah satu rahsia hikmah Allah Ta’ala dalam setiap urusan besar, sehingga kaum muslimin benar-benar merasa rindu kepada wahyu itu.

Selesai solat subuh pada hari terakhir (ke-50), ketika saya sedang berada di atas loteng rumah, persis seperti diterangkan Allah, “Jiwa terasa sesak, dan bumi pun terasa sempit, padahal dia begitu luasnya,” saya mendengar suara teriakan, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Saya pun sujud syukur. Saya tahu, telah datang kelapangan dan Rasulullah SAW memberitahukan adanya taubat dari Allah SWT atas kami ketika solat subuh. Kaum muslimin berduyun-duyun memberi ucapan selamat kepada saya dan dua sahabat itu. Ada seseorang datang dengan berkuda, ada pula dari bani Aslam berjalan cepat ke arah saya. Sedangkan suara lebih cepat dari kuda. Setelah pemilik suara itu datang, saya melepas baju saya dan memberikannya kepada orang itu sebagai hadiah atas berita gembira tersebut. Padahal, demi Allah, saya tidak punya baju lain selainnya pada hari itu. Akhirnya, saya meminjam sehelai baju dan mengenakannya lalu berangkat menemui Rasulullah SAW. Orang-orang pun berduyun-duyun mengucapkan selamat kepada saya, kata mereka, “Selamat, kerana taubatmu diterima oleh Allah.” Hal itu berlangsung sampai saya masuk ke dalam masjid. Ternyata Rasulullah SAW sudah dikelilingi oleh para sahabat lain.

Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidullah berlari kecil menyambut dan menyalami saya sambil mengucapkan selamat. Demi Allah, tidak ada satu pun Muhajirin yang berdiri selain dia. Saya tidak akan melupakan hal ini dari Thalhah.

Demikianlah keadaan mereka, iaitu orang-orang yang mencintai untuk saudaranya apa yang dicintainya untuk dirinya. Mereka tidak iri atau dengki atas kelebihan yang Allah SWT limpahkan kepada saudara mereka, iaitu turunnya wahyu yang agung menerangkan bahwa taubat mereka diterima. Bahkan, mereka mengucapkan selamat sampai Ka’ab masuk ke dalam masjid.

Kata Ka’ab, “Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, baginda berkata dengan wajah berseri-seri, ‘Bergembiralah dengan sebaik-baik hari yang telah engkau lewati sejak engkau dilahirkan ibumu’.”

Rasulullah SAW benar, karena Allah telah menurunkan taubatnya dan taubat kedua temannya dalam Al-Qur’an yang dibaca. Rabb semesta alam yang mengucapkannya dan menurunkannya kepada Muhammad, terpelihara dengan perantaraan Jibril dan terjaga sampai hari kiamat.

Tidak seorang pun selain para nabi, atau orang-orang yang disebut oleh Allah SWT dalam al-Qur’an yang kisahnya terpelihara seperti kisah Ka’ab dan dua sahabatnya. Kisah ini abadi dan senantiasa dibaca dalam Kitab Allah SWT, di mihrab, di mimbar, dan di mana-mana pun. Siapa yang membaca kisah ini, dia memperoleh 10 kebaikan dari setiap huruf al-Qur’an yang dibacanya.

Ka’ab melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah ini dari engkau atau dari sisi Allah SWT?”

Kata baginda, “Dari sisi Allah.” Dan kalau Rasulullah SAW gembira, wajahnya bersinar laksana bulan purnama.

Setelah duduk di hadapan baginda, saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sebagai bukti taubat, saya menyerahkan harta saya untuk sedekah kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah SAW berkata, “Simpanlah sebahagian hartamu, tentu itu lebih baik.”

Kata saya, “Sesungguhnya, saya menahan bahagian yang saya peroleh dari Khaibar.”

Kemudian saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkan saya tidak lain kerana kejujuran. Termasuk taubat saya juga, saya tidak akan berbicara kecuali yang benar selama saya masih hidup.”

Demi Allah, saya tidak melihat ada seorang muslim yang Allah SWT beri ujian dalam hal kejujuran—sejak saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah SWT—yang lebih baik daripada yang diberikan kepada saya.

Belum pernah pula saya sengaja berdusta sejak mengatakan hal itu kepada Rasulullah SAW sampai hari ini. Sungguh, saya berharap Allah SWT memelihara saya dalam sisa-sisa umur saya.

Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (seksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Surah at-Taubah : ayat 117—119)


Demi Allah, tidak pernah Allah Subhanahuwata’ala memberi nikmat kepadaku yang lebih besar bagi diri saya—sesudah memberi saya hidayah kepada Islam—daripada kejujuran kepada Rasulullah SAW; saya tidak akan berdusta kepada beliau, yang akibatnya saya binasa sebagaimana binasa mereka yang berdusta. Sungguh Allah SWT berfirman tentang orang-orang yang berdusta itu, karena menurunkan wahyu lebih buruk daripada kepada yang lain.

Allah SWT berfirman:

“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; kerana sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu reda kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu reda kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak reda kepada orang-orang yang fasik itu.” (Surah at-Taubah : ayat 95—95)


Dan kefasikan adalah sebab tidak diperolehnya keredaan Allah.

Kata Ka’ab, “Dahulu kami bertiga ditunda dari mereka yang diterima oleh Rasulullah SAW ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu beliau membai’at serta memintakan ampunan untuk mereka. Rasulullah SAW menunda persoalan kami sampai Allah memutuskannya. Itulah firman Allah Subhanahuwata’la:

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka….” Maknanya bukan tertinggal dari peperangan, tapi ketertinggalan kami dan penundaan beliau terhadap urusan kami dari mereka yang telah bersumpah kepada beliau dan mengajukan alasan lalu beliau terima.”

Beberapa kesimpulan dari kisah ini;

1.Seorang muslim boleh menceritakan dosanya sesudah taubat agar membangkitkan semangat orang lain untuk bertaubat, apalagi bila dosa itu tersebar dan diketahui orang banyak. Adapun dosa yang sifatnya rahsia atau yang terang-terangan tapi belum bertaubat, tidak boleh diceritakan agar tidak mendorong orang lain berbuat seperti itu, dan diapun menjadi golongan orang-orang yang mujaharah (terang-terangan berbuat dosa).
2.Seorang mukmin merasakan kepedihan ketika mengabaikan sebuah kewajiban.
3.Seorang mukmin tidak akan mengejek saudaranya, tetapi membelanya, seperti yang dilakukan Mu’adz bin Jabal RA terhadap Ka’b RA.
4.Memutuskan hubungan adalah ubat yang ampuh untuk mengembalikan orang-orang yang menyimpang kepada kebenaran. Larangan yang ada berlaku dalam urusan dunia, atau melampiaskan kejengkelan.
5.Mukmin yang sempurna tidak akan menjual agamanya, walaupun diberi dunia dan seisinya.
6.Sujud syukur ketika memperoleh kelapangan, seperti yang dilakukan Ka’ab.

Sumber:    http://salafy.or.id


No comments: